Rabu, 24 Oktober 2012

Orientalis Ignas Goldziher & H. A. R. Gibb


Pendahuluan
Orientalisme adalah pemikiran yang mencerminkan berbagai studi ketimuran yang Islami, Yang dijadikan obyek studi mencakup peradaban, agama, seni, sastra, bahasa dan kebudayaan. Gelombang pemikiran ini telah memberikan andil besar dalam membentuk persepsi Barat terhadap Islam dan dunia Islam, dengan mengungkapkan kemunduran pola fikir dunia Islam dalam rangka pertarungan peradaban antara Timur (Islam) dengan Barat.
Studi Islam tidak hanya digeluti oleh sarjana-sarjana muslim saja, baik yang konsen terhadap kajian Islam normatif atau Islam histories. sampai era saat ini para sarjana Barat juga ikut andil untuk mengkajinya. Sebagian besar fokus kajian yang mereka lakukan lebih condong pada kajian Islam historisnya. Banyak karya ilmuwan Barat yang menuliskan tentang sejarah Islam, sejarah Nabi Muhammad, juga karya yang mereka hasilkan adalah terjemah al-Quran kedalam bahasa mereka. Hasil karya mereka tidak lepas dari latar belakang, metode, dan pendekatan yang mereka gunakan, sehingga hasilnyapun berbeda-beda.
Setelah kemunculanya, Orientalis dapat digolongkan sebagai berikut[1]:
1.      Orientalis Obyektif: Hardrian Roland, Johann J. Reiske, Silvestre de Sacy, Thomas Arnold, Gustac le Bon, Z. Honke, Jakck Burke, Anne Marie Simmel, Thomas Carlyle, Renier Ginaut Dr. Granier dan Goethe, dll.
2.      Orientalis Fanatik: Goldziher, J. Maynard, S.M. Zwemer, G. Von Grunebaum, A.J. Wensinck, K. Cragg, L. Massignon, D.B.Mac Donald, M. Green, D.S. Margoliouth, A.J. Arberry, H.A.R. Gibb, J Schacht, R.A.Nicholson, Henry Lammens, Alfred Guillaume, dll.

Pembahasan
            Untuk pembahasan bab saat ini kami akan membahas dua tokoh Orientalis yang karya-karyanya sangat berbahaya bagi umat Islam (Goldziher dan H.A.R. Gibb ).
A.    Biografi Ignaz Goldziher
Ignaz Goldziher (1850-1921) adalah satu-satunya orientalis yang sempat belajar secara resmi di Universitas al-Azhar,Mesir.Ia bukan saja aktif menghadiri ‘tallaqi’ dengan beberapa masyayikh di Al-Azhar, bahkan ia pernah ikut shalat Jumat di sebuah mesjid di Mesir.
Ignaz Goldziher seorang Yahudi yang lahir di Hungaria 1850. Ia terlatih dalam bidang pemikiran sejak usia dini. Dalam usia lima tahun, ia mampu membaca teks Bibel “asli” dalam bahasa Ibrani. Pendidikan S1-nya bermula pada usia 15 tahun di Universitas Budapest, Hungaria. Ia sangat terpengaruh oleh pemikiran dosennya, yaitu Arminius Vambery (1803-1913),seorang pakar tentang Turki.
Setelah menyelesaikan studinya di Budapest, Goldziher melanjutkan studinya di Universitas Leipzig, Jerman. Ia meraih gelar doktor dari universitas tersebut ketika berusia 19 tahun. Gelar itu diperolehnya setelah dibimbing selama dua tahun oleh Heinrich Fleisher, orientalis Jerman terkemuka. Setelah dari Leipzig, Goldziher melanjutkan penelitiannya di Universitas Leiden, Belanda, selama setahun. Selanjutnya, pada usianya yang ke-21, ia pulang ke kampung halamannya dan menjadi dosen privat (Privatdozent) di Universitas Budapest, Hunagria.
Sebagai “adat” para orientalis untuk mengunjungi dan menetap di negara-negara Muslim supaya secara langsung dapat berinteraksi dengan para ulama, Goldziher juga berkunjung ke Syria dan Mesir pada 1873-1874. Di Mesir, ia dikenalkan oleh Dor Bey,seorang pejabat keturunan Swiss yang bekerja di Kementrian Pendidikan Mesir. Melalui Dor Bey,Goldziher diperkenalkan kepada Riyad Pasha, Menteri Pendidikan Mesir.
Setelah berkenalan beberapa lama dengan menteri pendidikan Mesir, Goldziher mengemukakan hasratnya untuk belajar di Universitas al-Azhar. Atas rekomendasi Riyad Pasha lah, Syakhul al-Azhar, ‘Abbasi,Mufti Masjid al-azhar terbujuk. Setelah bertemu dengan Goldziher yang saat itu mengaku bernama Ignaz al-Majari(Ignaz dari Hungaria) dan mengaku dirinya “Muslim” (namun dalam makna percaya kepada Tuhan yang satu, bukan seorang musyrik) , serta dengan kelihaiannya berdiplomasi, maka Goldziher bisa “menembus” al-Azhar. Ia menjadi murid beberapa masyayikh al-Azhar,seperti Syaikh al-Asmawi, Syaikh Mahfudz al-Maghribi, Syaikh Sakka dan beberapa syaikh al-Azhar lainnya.
Setelah sukses “bersandiwara,” Goldziher kembali ke Budapest. Ia menjabat sebagai Sekretaris Zionis Hungaria. Bagaimanapun, kajian tentang Islam lebih mewarnai kehidupannya dibanding keterlibatannya di bidang politik. Goldziher menulis banyak karya tentang studi Islam. Ia menulis misalnya, Muhammedanisnche Studien (Studi Pengikut Muhammad, 2 jilid,1889-1890); Die Riechtungen der islamischen Koranauslegung (Mazhab-Mazhab Tafsir dalam Islam,Leiden,1920) dan masih banyak lagi karya lainnya.
Pandaanganya terhadap Islam:
            Dia adalah orang hongaria yag terkenal permusuhanya terhadap islam. Tulisan atau karyanya sangat berbahaya bagi umat islam, dia juga termasuk sebagai anggota redaksi Ensiklopedia Islam. Dia menulis tentang al-Qur’an dan al-Hadith dalam Salah satu bukunya Sejarah Aliran Tafsir Islam yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab. 
            Dalam bukunya al-Aqidah wa al-Shari’ah fi al-Islam, Goldziher melakukan tuduhan-tuduhan yang sangat berbahaya diantaranya sebagai berikut[2]:
1.      al-Qur’an adalah kitab ciptaan Muhammad
2.      Hadith Nabawi adalah buatan para sahabat, tabi’in dan imam-imam madhab fiqh
3.      Undang-undang Islam bertumpu pada undang-undang Romawi
4.      tentara Islam yang menyebarkan kebenaran, kebaikan dan keadilan ke seluruh penjuru dunia, tidak didorong oleh factor iman, tapi karena krisis ekonomi dan kelaparan.
Pengetahuanya tentang hadist dari segala seginya membuatnya telah berhasil meragukan otentisitas haditst dengan dilengkapi studi-studi ilmiah yang dia lakukan. Menurutnya hadist adalah hasil dari reaksi perkembangan Islam baik sebagai al-Din atau perkembangan sejarahnya maupun pergolakan social umat Islam. Hadits yang dalam konsep Islam merupakan Corpus yang berisikan perkataan, perbuatan ataupun taqrir  yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw. menurut Goldziher tidak lebih sekedar catatan atas kemajuan yang dicapai Islam di bidang agama, sejarah dan sosial pada abad pertama dan kedua Hijriyah, hampir tidak mungkin untuk meyakinkan bahwa hadits dapat dinyatakan sebagai asli dari Muhammad atau generasi Sahabat Rasul[3].
Nampak dari ungkapan Ignaz ini adanya keraguan untuk meyakini otentisitas hadits  sudah ada pada masa Nabi, Shahabat ataupun masa tabi’in. Hadits  tidak lain adalah karya-karya ulama masa sesudah wafat Nabi yang diedarkan pada fenomena-fenomena sosial dan kasus-kasus aktual yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Dari berbagai analisa dan pemikirannya, Ignaz Goldziher telah berhasil melahirkan faham sesat dalam Islam yaitu Inkar Sunnah (inkar hadits), dan sekarang kaki tangan Goldziher sudah tersebar dimana-mana di dunia ini terutama sekali sarjana-sarjana Islam yang mengecap pendidikan di perguruan tinggi yang dikelola oleh jaringan zionis internasional. Di Mesir ada Ali Hasan Abdul Qadir, Dr. Thoha Husein, Dr. Ahmad Amin dan Abu Rayyah, di Amerika faham ini disebarkan oleh Dr. Rasyad Khalifah dan di Indonesia oleh Dr. Snouck Hourgrounje dan kaki tangannya seperti Habib Abdurrhman Az-Zahir, Sayid Osman bin Yahya dan Tengku Nurdin.
Dalam bukunya Al Aqidah was Syariah fil Islam’ Goldziher banyak melakukan tuduhan-tuduhan menyimpang kepada Muhammad saw. Prof. Ahmad Muhammad Jamal mengkritik keras karyanya ini. Menurut Jamal, pada halaman 12, Goldziher melontarkan tuduhan bahwa Islam merupakan himpunan pengetahuan dan pandangan agama-agama lain yang sengaja dipilih Muhammad. hal ini diketahui dan ditimba oleh Muhammad karena hubungannya dengan oknum-oknum Yahudi, Nasrani dan lain-lainnya[4].
B.     Biografi  H. A. R. Gibb
Dilahirkan pada 2 januari 1895 di Alexander, Egypt dari pasangan Alexander Crawford Gibb dan Jane Ann Gardner. Keduanya dari Scotland yang kemudian mengambil teaching position di Alexandria. Hamilton belajar di Scotland untuk pendidikannya pada 5 periode. Setelah 4 tahun sekolah private, ia memulai sekolah formal di Royal High School, Edinburgh pada tahun1904-1912 dengan fokus pada klasikal. Pada 1912, ia mendaftar di Edinburgh University bergabung pada jurusan bahasa semitik, yakni Hebrew, Arabic, dan Aramaic.
Selama perang dunia I, Gibb memutus studinya di Edinburhg University karena mengabdi pada resimen Inggris di prancis (1917). Ia mengabdi pula di Itali sebagai officer komisi sejak umur 19 tahun sampai genjatan senjata di Jerman pada 1918. Karena pengabdiannya itu ia kemudian dianugrahi war privilege berupa Master of Art.
Setelah perang, Gibb melanjutkan belajar tentang Arab di School of Oriental and African Studies, London University. Memperoleh gelar MA tahun 1922 dengan tesis “Arab Conquests of Central Asia”. Dari tahun 1921 sampai 1937 mengajar tentang Arab pada School of Oriental Studies dan menjadi profesor di sana pada tahun 1930. Selama waktu itu, ia menjadi editor Encyclopaedia of Islam.
Pada 1937, Gibb dinobatkan oleh D. S. Margoliouth sebagai Laudian Professor of Arabic dengan kenggotaan pada St John’s College, Oxford, dimana ia tinggal untuk 8 tahun. Bukunya, Gibb’s Mohammedanism dipublikasikan tahun 1949, menjadi teks dasar yang digunakan oleh pelajar barat tentang islam. Di tahun 1955, Gibb menjadi “The James Richard Jewett Professor of Arabic” dimana gelar kehormatan ini dianugrahkan kepada ilmuwan pilihan, "working on the frontiers of knowledge, and in such a way as to cross the conventional boundaries of the specialties." Belakangan, selain sebagai profesor di Harvard University, ia menjadi direktur Harvard Center For Middle Eastern Studies dan memimpin “The Movement in American Universities” untuk mengatur pusat pengkajian wilayah, besama para pengajar, peneliti, dan pelajar yang berbeda disiplin dalam studi budaya dan masyarakat sebuah wilayah di dunia[5].
Pandanganya terhadap Islam:
            Dia seorang Orientalis Inggris terbesar, anggota lembaga bahasa di Mesir, dosen studi Islam dan Arab di Universitas Hartvard (Amerika) dan juga anggota redaksi ensiklopedi Islam. Beberapa karyanya isinya sangat berbahaya, diantaranya adalah Jalan Islam yang ditulis bersama Orientalis lain yang kemudian telah diterjemahkan dalam bahasa Arab.
            Dalam bukunya  Bunyat al-Fikr al-Din fi al-Islam, Gibb mengemukakan bahwa sesungguhnya bangunan pemikiran keagamaan dalam Islam sebagian mengacu pada pemikiran jahiliyah tentang kepercayaan mereka terhadap roh-roh halus.semua itu diambil Muhammad yang kemudian diubahnya, selanjutnya digunakan untuk menghiasi tata aturan agama Islam serta untuk menegakkan Aqidah dan pemikiran keagamaan jika hal itu dipandang sesuai. Ketika Muhammad hendak menyebarkan agamanya kepada bangsa-bangsa di luar arab, maka dimasukanlah unsur-unsur tata aturan jahiliyah itu kedalam al-Qur’an[6].
Selanjutnya para ulama berusaha keras untuk mengembangkan ajaran dan hukum yang didasarkan al-Qur`an. Untuk itu, mereka memerlukan bahan tambahan untuk mengintepretasinya, yaitu dengan perkataan Nabi, prilakunya, dan penetapan darinya, yang sekarang dikenal dengan sebutan hadits. Menurut Gibb, hadits hanyalah cerminan pemikiran Muhammad. Dan karena hadits digunakan untuk mengesahkan pandangan ulama masa pertama, hal itu menimbulkan asumsi bahwa ia tidaklah otentik.
Dalam bukunya Mohammedanism dia menyebutkan kecintaan dan kemauan para sahabat terhadap Muhammad bukanlah di dasari oleh ajaran keagamaan dan statusnya sebagai nabi melainkan atas dasar kualitas moral yang di miliki Muhammad[7].

Simpulan
            Para sarjana muslim dan umat muslim sendiri pada umumnya bersikap berbeda dalam memandang kegiatan para orientalis. Diantaranya ada yang memandang murni kajian keilmuan tapi disisi lain lebih banyak yang menganggap sebagai sebuah propaganda melawan Islam. Dari keseluruhan gerakan orientalisme tersebut dalam berbagai bentuknya dari awal hingga akhir ini. Orientalisme itu lebih merupakan gambaran tentang pengalaman manusia Barat ketimbang tentang manusia Timur, orientalisme itu sendiri telah menghasilkan gambaran yang salah tentang kebudayaan Arab dan Islam, meskipun kajian orientalis nampak obyektif dan tanpa kepentingan yang jelas, tapi secara umum berfungsi untuk tujuan politik.
Harus diakui bahwa selain dari bidang-bidang pemahaman dan penafsiran Islam, para oritentalis banyak yang berjasa dalam kerja-kerja ilmiah lainnya dan cukup dirasakan manfaatnya, seperti misalnya dalam penyusunan lexicon, kamus-kamus, encyclopedia, kompilasi hadis dan sebagainya. Oleh karena itu umat Islam perlu bersikap bijaksana, tidak perlu apresiatif yang berlebihan. Umat Islam perlu bersikap kritis dan profesional dalam mengkaji dan menanggapi karya-karya orientalis itu.


[1] Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia, Gerakan Keagamaan & Aliran Pemikiran. [online], http://members.fortunecity.com/sakinahonline/alislam/www.alislam.or.id/aliranislam/orientalisme.html

[2] (Ahmad Muhammad Jamal), Achmad Zuhdi DH. Pandangan Orientalis Barat Tentang Islam. (Surabaya: PT. Karya Pembina Swajaya, 2004), 142.
[3] Ibid hlm 82.
[4] Hafsa Mutazz, “Sosok Orientalisme dan Kiprahnya”, [online], http://www.gaulislam.com/sosok-orientalisme-dan-kiprahnya, 27 Desember 2010.
[5] Zam Anharaz. Hamilton Alexander Rossken Gibb. [online], http://zamanharaz.blogspot.com/2011/12/hamilton-alexander-rossken-gibb.html.
[6] (Ahmad Muhammad Jamal), Achmad Zuhdi DH. Pandangan Orientalis Barat Tentang Islam. (Surabaya: PT. Karya Pembina Swajaya, 2004), 141.
[7] Ibid. Hlm  135. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar